Minggu, 27 Mei 2012

EYD


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Dalam rangka pembinaan bahasa Indonesia perlu perencanaan yang menyeluruh mengenai kegiatan pengajaran bahasa Indonesia, yang meliputi kurikulum, metode mengajar, teknik mengajar, bahan-bahan tes dan sebagainya (Halim, 1957:2-3). Dengan perencanaan yang menyeluruh dan matan maka pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan prosedur yang ada.
            Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Negara, dan fungsi sosial sebagai alat komunikasi, dengan segala ragamnya, antara lain ragam baku dan ragam tidak baku, ragam tulis dan ragam lisan, maka pemerintah telah mendahulukan ragam tulis secara nasional. Hal ini ditandai dengan terbitnya buku “Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan”. Demikian pula terbitnya “Pedoman Umum Pembentukan Istilah” dan pengadaan “Kamus Besar Bahasa Indonesia: merupakan usaha pembakuan ragam tulis secara nasional. 
            E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai (1991) mengemukakan yang dimaksud ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa) secara teknis. Yang dimaksud ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca (KBBI).
            Indonesia sudah beberapa kali berganti ejaan. Dimulai dari Ejaan Van Ophuijsen (19010, Ejaan Soewandi (1947), Ejaan Melindo (1959), dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang pertama kali disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, melalui pidato kenegaraan di depan siding DPR, pada tanggal 16 Agustus 1972, dan dikuatkan dengan keputusan Presiden No.57 tahun 1972. Selanjutnya pada tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedomam Umum Pembentukan Istilah” resmi berlaku di seluruh Indonesia.
            Tiga puluh empat tahun sudah lewat, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sudah ditetapkan dan sah dipakai. Tetapi kenyataannya masih terjadi kesalahan-kesalahan. Siswa SMP Negeri 8 Jember, juga masih melakukan kesalahan-kesalahan. Mereka masih kesulitan menulis Yang Maha Esa atau Yang Mahaesa; Perintah dilaksanakan atau Perintah di laksanakan; A. Mizan atau A Mizan; Sulastri,SH atau Sulastri, S.H.; Pascasarjana atau Pasca Sarjana. Demikian pula kesalahan-kesalahan masih terjadi pada penulisan huruf besar, bentuk ulang, gabungan kata, kata ganti, kata depan di;ke; dan dari, tanda baca titik, tanda baca koma, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, indikator masalah yang ada dapat diidentifikasi sebagai berikut (1) masih rendahnya kemampuan menerapkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bagi siswa, (2) rendahnya motivasi belajar, dan (3) kurangnya berlatih tulis-menulis yang menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

1.2. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang digarap dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
            “Apakah latihan dan bimbingan secara kontinyu dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)?”

1.3. Tujuan Penelitian
            Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
            Mendeskripsikan peningkatan kemampuan menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) siswa kelas VIII SMP Negeri 8  Jember dengan latihan serta bimbingan secara kontinyu.
1.4. Manfaat Penelitian
            Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru bahasa dan sastra Indonesia, siswa SMP peneliti lainnya. Manfaat tersebut terperinci sebagai berikut:
(1)   bagi guru, khususnya guru bahasa Indonesia kelas SMP Negeri 8  Jember, dapat menambah kreativitas dan inovasi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan;
(2)   bagi siswa kelas SMP VIII Negeri 8 Jember dapat mengoptimalkan hasil belajar bahasa Indonesia;

1.5. Hepotesis Tindakan
            Jika diterapkan, latihan dan bimbingan secara kontinyu dalam pembelajaran maka kemampuan menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Jember menjadi meningkat.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Dalam pembahasan masalah mengenai kemampuan siswa tentang Ejaan Yang Disempurnakan dengan menerapkan metode latihan dan bimbingan secara kontinyu menggunakan landasan teori yang meliputi (1) pengertian ejaan, (2) penulisan huruf besar, (3) kata ulang, (4) gabungan kata, (5) kata depan di, ke, dan dari, (6) partikel, (7) singkatan kata, (8) angka dan lambang bilangan serta (9) tanda baca.

 2.1  Pengertian Ejaan
            Menurut Sumiati Budiman (1987:22), ejaan adalah keseluruhan aturan tatatulis suatu bahasa baik yang menyangku lambang bunyi, penulisan kata, penulisan kalimat, maupun penggunaan tanda baca. Ejaan bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang ini menganut system tulisan fonemis. Maksudnya, ejaan tersebut berusaha melambangkan sebuah fonem dengan sebuah huruf. Meskipun demikian satu huruf ada yang digunakan untuk melambangkan dua fonem atau satu fonem yang dilambangkan dengan dua huruf.

2.2 Penulisan Huruf Kapital
         Dalam hal ini Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (1996:6) mengemukakan bahwa:
2.2.1 Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
      Dia mengantuk.
      Apa maksudnya?
      Kita harus bekerja keras.
      Pekerjaan itu belum selesai.



2.2.2 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
            Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
            Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
            Kemarin engkau terlambat, “katanya.
            Besok pagi, “kata Ibu, “dia akan berangkat”.
2.2.3 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
            Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
            Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
2.2.4 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra, Yamin, Sultan Hasanudin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim
Huruf kapital tidak tipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
            Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
            Tahun ini ia pergi haji.
2.2.5 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman, Halim Perdanakusumah, Ampere



Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel, 10 volt, 5 ampere
2.2.6 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
mengindonesiakan kata asing
keinggris-inggrisan
2.2.7 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal, Perang Candu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
2.2.8 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
2.2.9 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsure kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.
2.2.10 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan, nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
Dr.       doctor
M.A.   master of arts
S.E.     sarjana ekonomi
S.H.     sarjana hokum
S.S.      sarjana sastra
Prof.   professor
Tn.      Tuan
Ny.      Nyonya
Sdr.     Saudara
2.2.11 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipaki dalam panyapaan pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” Tanya Hartono.
Adik bertanya, Itu apa, Bu?”
Surat Saudara sudah saya terima.



“Silakan duduk, Dik!” kata Untung.
Besok Paman akan datang.
Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

2.3 Penulisan Gabungan Kata
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1996:15) mengemukakan bahwa penulisan gabungan kata
2.3.1 yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
Duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linier, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat
2.3.2 termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsure yang bersangkutan.
Misalnya:
Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda
2.3.3 seperti berikut tertulis serangkai
Misalnya:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilaman, bismillah, beasiswa, belasungkawa,bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, darmawisata, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, saptamarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, syahbandar, titimangsa, wasalam

2.4  Penulisan Kata Depan di, ke, dan dari
Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1996:16), kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Catatan:
Kata-kata yang dicetak tebal di bawah ini ditulis serangkai.
Misalnya:
Si Amin lebih tusa daripada si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1996.
Bawa kemari gambar itu.
Kemarikan buku itu.
Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.



2.5 Partikel
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1996:17), berpendapat bahwa penulisan:
2.5.1 Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-naik.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia.
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih?
2.5.2 Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap  kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin ikut.
Catatan:
Kelompok kata yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun miskin, ia selalu gembira.


2.6 Singkatan
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. (Depdikbud, 1996: 19)
2.6.1 Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
A.S. Kramajaya
Muh. Yamin
Suman Hs.
Sukanto S.A.
M.B.A.           master of business administration
M.Sc.              master of science
S.E.                 sarjana ekonomi
S.Kar.                        sarjana karawitan
S.K.M.            sarjana kesehatan masyarakat
Bpk.                Bapak
Sdr.                 Saudara
Kol.                Kolonel
2.6.2 Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
Dll.                                          Dan lain-lain
Dsb.                                        Dan sebagainya
Dst.                                         Dan seterusnya
Hlm.                                        Halaman
Sda.                                         Sama dengan atas
Yth.(Sdr. Moh. Hasan)        Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)




Tetapi:
a.n.                                          atas nama
d.a                                           dengan alamat
u.b.                                          untuk beliau
u.p.                                          untuk perhatian
2.6.3 Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
Cu                                           kuprum
TNT                                        trinitrotoluene
cm                                           sentimeter
kVA                                        kilovolt-ampere
l                                               liter
kg                                            kilogram
Rp (5.000,00)                                    (lima ribu) rupiah

2.7 Angka dan Lambang Bilangan
Depdikbud (1996:22) berpendapat bahwa apenulisan angka dan lambing bilangan seperti penjelasan berikut:
2.7.1 Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, aparteman, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan Tanah abanmg I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 196
2.7.2 penulisan lambang tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
Paku Buwono X; pada awal abad XX; dalam kehidupan pada abad ke-20 ini; lihat Bab II, Pasal 5; dalam bab ke-2buku itu; di daerah tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu; kantor di tingkat II itu.
2.7.3 Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan denga satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darno mengundang 250 orang tamu.
Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.

2.8. Penulisan Tanda Baca Titik (.)
2.8.1 Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang adatang besok.
2.8.2 Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
a.      III. Departemen Dalam Negeri
1.      Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
2.      Direktorat Jenderal Agraria
3.     
b.      1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik


2.8.3 Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda Tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai Poestaka.

























BAB III
METODE PENELITIAN

            Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bermula dari permasalahan nyata yang dihadapi peneliti, bahwa pokok bahasan ejaan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, merupakan salah satu pokok bahasan yang dianggap sulit, contoh-contoh penggunaan ejaan yang benar sulit didapat, baik dari guru bukan bahasa Indonesia, buku-buku bukan bahasa Indonesia, identik banyak kesalahan dalam penggunaan ejaan yang benar. Untuk mencari jawaban yang benar dari permasalahan tersebut peneliti perlu mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK). Adapaun sasaran penelitian tindakan kelas (PTK) adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Jember, semester genap tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukanh melalui prasiklus (siswa didekte untuk menulis dengan menggunakan EYD), dan siklus berikutnya melalui latihan soal-soal tentang penggunaan EYD yang benar baik dalam bentuk kalimat maupun dalam bentuk wacana.

3.1 Teknik Analisis Data
            Analisis data dalam penelitian ini dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan model Alir Miles dan Humbenman (1992:18) yang meliputi tahap (1) mereduksi data yaitu proses kegiatan menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan sesuai data yang diperoleh mulai dari awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan, (2) Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan hasil reduksi dengan cara menyusun secara naratif sekumpulan informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi sehingga dapat memberi kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan, dan (3) Menarik kesimpulan serta ferivikasi, kegiatan ini mencakup pencarian makna data serta memberi penjelasan, selanjutnya dilakukan kegiatan ferivikasi yaitu menguji kebenaran, kekokohan, dan kecocokan makna-makna yang muncul dari data.

3.2 Tindakan-tindakan
I. Merencanakan
            a.  Menyusun  rencana pembelajaran untuk tindakan
             b. Menyiapkan media yang dibutuhkan
              c. Menyiapkan lembar kerja siswa
            d. Menyiapkan lembar observasi, tes akhir
            e. Mengkoordinasikan program kerja pelaksanaan tindakan
II. Melaksanakan (siklus I)
Melaksanakan tindakan I disesuaikan dengan rencana pembelajaran yang telah disusun yaitu penerapan penggunaan ejaan yang benar.
III. Melaksanakan (siklus II)
Melaksanakan tindakan I disesuaikan dengan rencana pembelajaran yang telah disusun yaitu penerapan penggunaan ejaan yang benar
IV. Mengamati
Mengamati dilakukan oleh teman sejawat. Dengan melihat hasil tulisan sesuai apa yang didekte oleh  guru.
V. Merefleksi
Merefleksi dilaksanakan untuk melihat, keseluruhan proses pelaksanaan tindakan hasil pemahaman siswa. Merefleksi adalah menganalisis data-data yang diperoleh dari observasi dan hasil tulisan siswa.

Tahap refleksi meliputi kegiatan memahami, menjelaskan, dan menyimpulkan data serta melengkapi dengan penilaian proses pembelajaran.
Pada prasiklus siswa menulis apa yang didektekan guru, misalnya:
1.      antarprovinsi; subseksi; ekstrakurikuler
                  Jawaban siswa: antar propinsi; sub seksi; ekstra kurikuler
2.      bertanggung  jawab; garis bawahi; menganaktirikan
      Jawaban siswa: bertanggung jawab; garisbawahi; menganaktirikan  
3.      bangsa Jawa
Jawaban siswa: bangsa jawa
4.      s.d.
Jawaban siswa: s/d
5.      Ke mana saja ia selama ini?
Jawaban siswa: Kemana saja ia selama ini?
6.      A.S. Kramatjaya
Jawaban siswa: AS Kramatjaya
7.      Ahmad Hasan, S.H.
Jawaban siswa: Ahmad Hasan, SH
8.      Paku Buwono II
Pakubuwono ke II
9.      Jika ayah pergi, adik pun ikut pergi.
Jawaban siswa: Jika ayah pergi, adikpun ikut pergi.
10. Rp 500.000,00
Jawaban siswa: Rp. 500.000,00

            Setelah mendekte, hasil pekerjaan siswa dikoreksi oleh temannya. Hasil dari pekerjaan siswa menunjukkan fakta kurang berhasil, atau siswa kurang
memahami EYD dengan baik. Kesulitan terletak pada kurangnya kemampuan siswa dalam EYD. Selanjutnya, peneliti sebagai guru mengulang kembali penjelasan materi EYD dan membimbing siswa yang masih belum mengerti.
            Setelah peneliti/guru menyampaikan materi EYD berkali-kali (sesuai jam pelajaran) maka dilanjutkan kegiatan siklus I maupun siklus II, sampai siswa dapat menggunakan EYD dalam tulisan dengan benar.

           






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

            Pada umumnya siswa senang terhadap  pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari aktivitas pada prasiklus, siklus I, dan siklus II diikuti dengan baik. Pada prasiklus, peneliti ingin mengetahui seberapa jauh kemampuan siswa, memahami EYD, dengan berpedoman pada rambu-rambu sebagai berikut:
                        Skor 80 – 100           : sudah terampil
                        Skor 60 -  70                         : hamper terampil
                        Skor        <60             : belum terampil
            Hasil prasiklus, menunjukkan hasil yang kurang memuaskan atau siswa belum terampil. Hal ini ditunjukkan dengan bervariasinya jawaban siswa ketika didekte oleh guru. Bahkan dari sepuluh soal yang didekte oleh guru masih ada beberapa siswa yang melakukan kesalahan.
Misalnya:
1.      Soal 1, tentang unsur gabungan kata
Siswa menulis antar propinsi, sub seksi, ekstra kurikuler (secara terpisah), berpedoman pada Eyd, jika salah satu unsure gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangakai.
Contoh:
            Antarprovinsi
            Subseksi
            Ekstrakurikuler
            Mahasiswa
Pramuniaga
Pascasarjana
            Dan sebagainya
2.      Soal 2, tentang unsur gabungan kata
Siswa menulis menganak tirikan dan menggaris-bawahi (secara terpisah atau diberi tanda hubung), secara aturan apabila gabungan kata yang biasa ditulis terpisah jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.


Contoh:
            Anak tiri menjadi menganaktirikan
            Babi buta menjadi membabibuta
            Kambing hitam menjadi mengambinghitamkan
            Ikut serta menjadi diikutsertakan
            Dan sebagainya
3.      Soal 3, tentang pemakaian huruf capital
Siswa menulis bangsa jawa, secara aturan huruf capital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh:
            Bangsa Jawa
            Suku bangsa Ambon
            Bahasa Inggris
            Dan sebagainya
4.      Soal 4, tentang singkatan
Siswa menulis s/d, berpedoman pada EYD, singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu  tanda titik, kecuali a.n.; d.a.; u.b.; dan u.p.
Contoh:
            Dll.      Dan lain-lain
            Hlm.    Halaman
            Sda.     Sama dengan atas
Dsb.    Dan sebagainya
Tetapi:
a.n.      atas nama
d.a.      dengan alamat
u.b.      untuk beliau
u.p.      untuk perhatian
     5.   Soal 5, tentang kata depan di, ke, dan dari
Siswa menulis kemana (secara serangkai), secara aturan kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
            Contoh:
            Ke mana saja ia selama ini?
            Mereka ada di rumah.
            Kami percaya sepenuhnya kepada kakak.
            Bawa kemari buku itu!
6.      Soal 6 dan 7, tentang sinkatan
Siswa menulis AS Kramayjaya, Ahmad Hasan, SH (tanpa tanda titik), berpedoman pada EYD, tanda titik dipakai untuk singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat.
Contoh:
            A.S. Kramatjaya
Muh. Yamin
                        S.H.     sarjana hukum
                        Bpk.    Bapak
7.      Soal 8, tentang lambang bilangan
Siswa menulis Paku Buwono ke II, berpedoman pada EYD, apabila lambing tingkat ditulis dengan angka romawi maka tidak menggunakan ke , jika menggunakan angka Arab menggunakanke diikuti tanda hubung (-), sedangkan jika ditulis dengan huruf maka penulisannya serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh:
            Paku Buwono II
            Paku Buwono ke-2
            Paku Buwono kedua
8.      Soal 9, tentang partikel pun
Siswa menulis Jika ayah pergi, adikpun ikut pergi, secara aturan, partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
            Jika ayah pergi, adik pun ikut pergi.
            Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Jangankan dua kali, sekali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
9.      Soal 10, tentang singkatan
Siswa menulis Rp. 500.000,00, berpedoman pada EYD bahwa lambing kimia, singkatan satuan ukuran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh:
            Rp       rupiah
Cm      sentimeter
            Kg       kilogram
           
Hasil prasiklus menunjukkan skor 58. Dengan demikian skor kurang dari 60 atau siswa belum terampil, maka dengan soal yang berbeda siklus I menunjukkan skor 80-100 atau siswa sudah terampil.

Tabel 1.
Hasil Siklus 1 Setelah Mendapatkan Materi Ejaan yang Disempurnakan

No
Soal
Bentuk Soal
Jumlah Siswa


Benar
Salah
1.
Huruf kapital berhubungan dengan nama majalah
28
10
2.
Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus
35
3
3.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama
29
9
4.
Huruf kapital yang tidak sebagai huruf pertama nama jabatan jika tidak diikuti nama orang
31
7
5.
Huruf kapital tidak dipakai berhubungan dengan nama satuan ukuran
28
10
6.
Penulisan unsur gabungan dengan kata maha dipisah jika diikuti kata esa dan kata dasar
30
8
7.
Huruf kapital berhubungan dengan kata penunjuk hubungan kekerabatan
37
1
8.
Gabungan kata yang dipakai dalam kombinasi

33
5
9.
Gabungan kata yang sudah lazim dianggap satu kata
26
12
10.
Penulisan terpisah dari kata yang mengikutinya berhubungan dengan kata depan
32
6
11.
Penulisan terpisah dari kata yang mendahuluinya berhubungan dengan partikel
28
10
12.
Tanda baca titik yang tidak dipakai dalam singkatan berhubungan dengan mata uang
35
3
13.
Penulisan tanda titik yang dipakai berhubungan dengan singkatan nama orang
30
8

J u m l a h                                                          
402
92

Jumlah siswa kelas VIIIC SMP Negeri 8 Jember 38 siswa
Dari data siklus I, menggambarkan bahwa:
a.         402  x 100% = 81,31                       b.         92 x 100% = 18,62
            494                                                                494


Data tersebut menggambarkan bahwa sisw kelas VIIIC SMP Negeri 8 Jember tahun pelajaran 2011/2012 sudah terampil menggunakan EYD (81,31%) dan belum terampil menggunakan EYD (18,62%) atau kurang dari 60%.
Pada prasiklus menunjukkan skor kurang dari 60 atau belum terampil, namun pada siklus I, menunjukkan hasil yang sigfinikan yakni mendapat skor 81,31, artinya antara skor 80-100 atau siswa sudah dianggap terampil. Namun hasil yang signifikan dengan skor 81,31 belumlah dikatakan meyakinkan/akurat. Untuk membuktikan apakah siswa benar-benar sudah mampu menggunakan EYD dilakukan siklus II dengan jenis soal yang berbeda yaitu menggunakan telaah wacana yang menggunkan beberapa tulisan, tanda baca yang sengaja disalahkan, atau tidak sesuai EYD, baik yang sudah diujicobakan dalam prasiklus atau siklus I dan tulisan atau tanda baca lain yang belum diujicobakan.

Tabel 2.
Hasil Siklus 2 Setelah Latihan Soal materi Ejaan yang Disempurnakan       
No Soal
Bentuk Soal
Jumlah Siswa

Benar
Salah
1.
Huruf kapital berhubungan dengan kata penunjuk hubungan kekerabatan
31
7
2.
Huruf kapital berhubungan dengan nama buku
37
1
3.
Penulisan tanda titik dipakai berhubungan dengan singkatan nama uang
27
11
4.
Penulisan terpisah dari kata yang mengikutinya berhubungan dengan imbuhan
26
12
5.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan
36
2
6.
Tanda hubung menyambung unsur-unsur mata uang
36
2
7.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai  huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan
35
3
8.
Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus
34
4
9.
Penulisan terpisah dari kata yang mendahuluinya berhubungan dengan partikel
35
3
10.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat
36
2

J  u m l a h
412
43


Data tersebut menggambarkan bahwa siswa kelas VIIID SMP Negeri 8 Jember tahun pelajaran 2011/2012 benar-benar sudah terampil menggunakan EYD (87,63%) dan belum terampil menggunakan EYD (12,37%) atau kurang dari 60%. Ini menunjukkan keakuratan dan keyakinan kepada siswa bahwa peningkatan terjadi setelah diadakan latihan menggunakan EYD secara kontinyu dengan berbagai bentuk variasi latihan.
            Dalam telaah wacana, dari 38 siswa kelas VIIID SMP Negeri 8 Jember, soal yang dirasa sulit atau banyak kesalahan adalah:
1. Menulis kata pak dengan huruf kecil
Hal ini disebabkan karena pak sebagai sapaan keakraban ditulis dalam kalimat langsung/kutipan langsung.
Contoh:
“Selamat pagi, Pak!”
“Kapan Bapak Berangkat?” Tanya Suharto.
2. Menulis kata dibawa dan dilahirkan
Hal ini disebabkan siswa berasumsi bahwa di dianggap sebagai kata depan yang penulisannya setiap ada kata di pasti penulisannya di pisah.
Contoh:
Dibawa           ditulis                         di bawa
Dilahirkan     ditulis             di lahirkan
Diawali          ditulis             di awali
3. Menulis singkatan RM Ontowiryo tanpa tanda titik.
Hal ini disebabkan bahwa siswa berasumsi singkatan dengan huruf kapital tanpa tanda baca titik seperti ABRI, TNI,dan sebagainya.
Contoh:
RM Ontowiryo          seharusnya    R.M. Ontowiryo
Hasan Sadikin M      seharusnya    Hasan Sadikin M.





















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
           
            Dari hasil penelitian tindakan kelas perihal keterampilan menerapkan kaidan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) melalui metode latihan soal dan bimbingan secara kontinyu kepada siswa dengan memberikan latihan menulis dengan ejaan yang benar maupun dengan  memperbaiki wacana atau menyunting wacana yang ejaannya salah, ternyata siswa mempunyai kemampuan untuk menggunakan ejaan dengan benar. Dengan catatan untuk dapat menerapkan ejaan yang benar harus banyak berlatih dan dilatih.

5.2 Saran
            Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas, dapat dikemukakan saran kepada guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 8 Jember, agar siswa banyak diberi latihan-latihan soal, dan meneliti wacana yang salah dalam penggunaan ejaan.Untuk guru-guru bukan Bahasa Indonesia diharapkan menerapkan juga penggunaan ejaan dengan benar dalam menulis, baik itu tugas maupun menulis ulangan. Dengan demikian diharapkan nantinya siswa dapat belajar ejaan dari semua guru, dan tentunya siswa lebih optimal dalam menulis dengan ejaan yang benar.









DAFTAR PUSTAKA

Dardjowidjoyo, Soenjono. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Kurikulum Sekolah Menengah Umum: Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Halim,Amran ed. 1980. Politik Bahasa Nasional 2. Jakarta: Balai Pustaka.
Maliki,Imam. 1999. Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya: Usaha Nasional.
Wiyanto,Asul. 2004. Terampil Menerapkan Kaidah Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo.

















Lampiran 1:  Soal Siklus I

Benar atau salahkah penulisan kata/frase/kalimat berikut?
1.      Bacalah majalah Bahasa dan Sastra!
2.      Ia  mengikut sertakan seorang anak.
3.      Soekarno dan Hatta Memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
4.      Siapa gubernur yang  baru di lantik itu?
5.      10 Ampere; 10 volt
6.      Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
7.      Surat saudara sudah saya terima.
8.      paripurna; tri tunggal; manca Negara; pramu niaga; saptakrida; olahraga
9.      Si Amin lebih tua daripada Ahmad.
10. Ke mana saja ia selama ini?
11. Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
12. Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman Rp 250.000.000,-
13. Bpk. Marsudi,SH baru saja dilantik menjadi kepala desa.















Lampiran 2 : Soal Siklus II

Ubahlah kata/frase/klausa dalam wacana berikut yang tidak sesuai dengan  EYD!

PANGERAN DIPONEGORO
(1785-1885)

Pukul 07.00 WIB bel berdering cukup keras. Siswa-siswi SMKN 4 Jember bergegas memasuki kelas. Selang beberapa menit kemudian suasana menjadi tenang. Mereka siap menerima pelajaran. Para guru pun memasuki kelas masing-masing.
“Selamat pagi, pak!” Sapa siswa-siswi kelas X kepada Pak Phiter, guru bahasa Indonesia.
            “Selamat pagi! Sambutnya sambil mengecek buku agenda kelas dan daftar hadir siswa. Setelah mengecek kehadiran sisewa, ia mulai mengajarkan Bahasa Indonesia.
            “Pelajaran ke-6 akan kita awali dengan membaca wacana berjudul Pangeran Diponegoro. Keluarkan buku sejarah nasional kalian!” Serunya penuh semangat.
            “Edi, coba bacakan wacana tersebut! Suruh Pak Phiter. Edi membacakan wacana itu dengan cermat.
Pangeran Diponegoro nama aslinya R M Ontowiryo. Ia di lahirkan di Yogyakarta, 11 November 1785. Ayahnya bernama Sultan Hamengkubuwono ke III. Sejak kecil pangeran yang penuh charisma itu dirawat oleh neneknya yang bernama IR. Ratu Ageng.
Ratu Ageng meminta jiwa sang pangeran agar menjadi santri yang taat beribadah.
Amatlah mungkin, setelah dewasa ia begitu membenci pola hidup dan kebudayaan Barat yang di bawa Belanda ke Indonesia. Misalnya saja kebiasaan pesta pora yang disertai dansa sambil minum-minuman yang memabukkan. Kebencian itu semakin mendidih ketika belanda mencampuri urusan dalam Negeri Mataram. Bayangkan saja, Belanda sengaja membuat peraturan yang merendahkan martabat para raja Jawa. Para bangsawan Jawa diadudomba. Tanah kerajaan diserobot untuk perkebunan para konglomerat Belanda. Bahkan pertanian rakyat pun dikuasai.
……………………………………………………………………………….































Lampiran
Siklus I

DAFTAR NILAI SISWA KELAS X AKUNTANSI I

No
Nama























































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar